Share, , Google Plus, Pinterest,

Posted in:

Marcus Hutchins

Penakluk WannaCry

© by Istimewa

Pada pertengahan Mei ini, dunia dihebokan oleh serangan ransomware bernama WannaCry. Sejumlah instansi dan lembaga ternama menjadi korban. Di Indonesia, dua rumah sakit ternama dihantam virus ini. Namun, beberapa hari kemudian, seorang pemuda berusia 22 tahun berhasil menaklukkan virus ini. 

Dua rumah rumah sakit ternama di Jakarta diserang WannaCry. Tercatat sekitar 600-an unit komputer terinfeksi. Sontak saja hal tersebut mengganggu sejumlah kegiatan di rumah sakit.

Setelah ditelusuri, ternyata Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang menjadi korban dari virus ini. Sejumlah negara juga terindikasi terinfeksi virus yang belum diketahui asal usulnya ini. Tercatat bahwa lebih dari 200 ribu komputer di lebih dari 150 negara terinfeksi virus ini.

Ransomware WannaCry, kata Adi Jaelani dari Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (Id-SIRTII), menyerang secara global, baik sektor swasta maupun pemerintah. Malware ini teridentifikasi sebagai varian ransomware yang dikenal sebagai WannaCry, Wanna Decrypt0r, WannaCryptor, WCRY. “Jika telah terkena malware ini, maka penyerang akan meminta uang dalam bentuk bitcoin yang harus dibayarkan melalui link yang telah ditentukan. Kisaran uang yang dibayar sekitar US$300,” jelasnya.

Bitcoin adalah mata uang virtual. Mata uang ini dikembangkan pada tahun 2009 lalu oleh seseorang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto. Bitcoin bisa dikirim ke mana saja dalam hitungan detik, kapan pun dan dari mana pun.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, menegaskan perlunya kecepatan dalam menangani serangan ransomware ini. “Tersebarnya ransomware ini demikian masif di seluruh dunia. Bukan hanya di Indonesia. Sehingga perlu percepatan untuk penanganannya. Hitungannya bukan hari, tapi menit,” katanya dalam konferensi pers tentang serangan ransomware WannaCry di Bakoel Koffie, Jakarta Pusat, Minggu (14/5) lalu.

 

Penyihir Komputer

Teror WannaCry itu akhirnya berhasil ditaklukkan oleh seorang pemuda berusia 22 tahun dari tanah Inggris. Namanya Marcus Hutchins. Peselancar dunia maya itu sontak dipuji sebagai pahlawan.

Lelaki yang dijuluki sebagai “penyihir komputer” itu berhasil menghentikan penyebaran virus WannaCry secara global beberapa jam setelah serangan dimulai. Di Inggris, virus itu telah mengacaukan sistem komputer Layanan Kesehatan Nasional (NHS) dengan ribuan orang menjadi korbannya.

Pemuda ini melakukan aksinya dari sebuah kamar tidur kecil di rumah orang tuanya. Ia melakukannya sambil makan pizza. Sebagai seorang peneliti keamanan siber, lelaki yang menulis tweet dengan nama samaran “Malware Tech” itu berusaha untuk menghentikan penyebaran virus tersebut. “Dia adalah teman yang sangat baik dan juga rekan bisnis,” kata Kurtis Baron, salah satu teman Hutchins dan pendiri Fidus Information Security, kepada The Telegraph.

Menurut Baron, temannya tersebut bekerja seperti “accidental hero” yang menemukan “kill switch” untuk menghentikan serangan ransomware terhadap jaringan komputer NHS. “Ini bukan pekerjaan baginya, (tapi) lebih merupakan gairah yang dia dapatkan untuk dibayar,” katanya.

 

Secara Kebetulan

Hutchins adalah seorang pemuda yang suka sekali menghabiskan waktunya di depan komputer. Ia bukan seorang mahasiswa. Namun, ia adalah salah satu penyihir komputer. “Saya berencana kuliah, tapi saya mendapat tawaran pekerjaan dan saya terima. Saya benar-benar autodidak dalam mempelajari segala sesuatu,” katanya.

Di dalam kamarnya ada tiga layar komputer besar. Ditemani lagu-lagu dari Taylor Swift, ia berusaha menghentikan semua serangan virus komputer. “Saya mencari jalan untuk menemukan dan menghentikan virus dari berbagai jenis. Untuk melakukan itu, saya membongkar domain-domain yang tidak teregistrasi. Tiga tahun lalu, saya berhasil mendaftarkan ribuan domain,” ungkapnya dalam blog-nya.

Dengan cara itulah ia berhasil menghentikan penyebaran WannaCry. Namun, ia mengatakan bahwa ia melakukan itu secara tidak sengaja. “Saya tidak sadar bahwa dengan mendaftarkan domain yang saya temukan, saya malah menghentikan malware itu. Jadi, itu kebetulan. Mungkin saya akan menambahkan kalimat ‘secara kebetulan menghentikan serangan siber internasional’ dalam resume saya,” ceritanya.

Apa yang dilakukannya jelas menolong banyak orang di dunia. Namun, ia tidak mau disebut sebagai pahlawan. “Saya jelas bukan pahlawan. Saya hanya seseorang yang melakukan sedikit untuk menghentikan botnets (robot network),” katanya. Aditama/dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *